♦ Rasulullah saw bersabda :” "Orang dermawan, dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dan dekat dengan syurga,
sedangkan orang bakhil (pelit), jauh dari Allah, jauh dari manusia dan jauh dari Syurga. Sungguh Allah SWT lebih
mencintai hambanya yang bodoh tapi dermawan, dibandingkan dengan ahli ibadah (pandai) tapi pelit (bakhil) " (Al
Hadits- Riwayat Abu Hurairah);
"Ya Allah! Jagalah diriku dari menganggap hina orang yang tidak memiliki sesuatu, atau menganggap utama orang yang
memiliki kekayaan. Karena orang yang mulia itu adalah orang yang dimuliakan oleh ketaatannya kepada-Mu, dan orang
yang agung itu adalah orang yang diagungkan penghambaannya kepada-Mu."
Jadwal Sholat Wilayah DKI Jakarta & Sekitarnya, 30 Stember 2002
Subuh Dzuhur Ashar Maghrib Isya’
04.28 11.48 14.59 17.52 19.00
Muslimin & Muslimat BPPN Rahimakumullah
Bagi anda yang hendak mengeluarkan sebagian rizki hak para mustahiq, atau barangkali ada yang mau zakat,
shodaqoh ataupun infaq u/ Dompet Duafa Republika, kami masih membuka kesempatan u/ di transfer ke Rekening
BCA No. 4411144911 atas nama Diana Darwis untuk kami teruskan ke Dompet Dhuafa Republika. Atau langsung
transfer ke Dompet Dhuafa Republika dengan Rekening : BCA No. 237.301888.1 dan BCA No. 237301999.2 a/n
Dompet Dhuafa Republika. terlampir tulisan bagus, Semoga bermanfaat. Jazakallohu khoiron katsiro.
Rasulullah saw, Sang Reformis Agung
BAGI bangsa Arab,kelahiran Muhammad adalah kelahiran dari kegelapan
kepada cahaya Arabia untuk pertama kalinya hidup karena kehadirannya
Bangsa-bangsa gembala yang miskin yang terasing di sahara sejak terciptanya dunia
Seorang nabi pahlawan dikirimkan kepada mereka. Dengan firman yang mereka percaya
Lihat bagaimana gembala-gembala yang tak dikenal menjadi penguasa dunia
Bangsa yang kecil tumbuh menjadi bangsa yang besar
Dan dalam satu abad sesudah itu,
Arabia memanjang sejak Granadha sampai New Delhi
Cemerlang dalam segala cahaya dan kebesaran
Arabia menyinari abad-abad yang panjang pada bagian besar dunia
Imam memang besar dan memberikan kehidupan
Sejarah satu bangsa menjadi tumbuh subur
Menaikkan jiwa besar segera setelah bangsa itu percaya kepada orang Arab ini
Orang ini - Muhammad - dan satu abad saja
Bukankah ini sebuah percikan yang jatuh dari langit
Kepada dunia padang pasir yang tidak dikenal dan kelabu
Dan lihatlah, padang-padang pasir itu berubah
menjadi amunisi yang meledak
Dan sinarnya naik ke langit,
sejak Delhi hingga Granadha.
(Thomas Carlyle)
Ucapan Thomas Carlyle di atas sering dikutip Bung Karno dengan - seperti biasa - farafrase
sendiri, Kedatangan Muhammad ke negeri Arab seperti jatuhnya percikan api ke tengah
Sahara. Terjadi ledakan besar, sehingga merah rona angkasa dari Delhi ke Granada.
Bung Karno mengutipnya dari buku Thomas Carlyle dalam terjemahan Belanda, Helden en
Helden Vereering. Di situ Carlyle melukiskan jenis-jenis pahla-wan. Muhammad saw
ditempatkannya dalam kategori Pahlawan sebagai Nabi. Dalam teori perubahan sosial,
Carlyle termasuk penganut the great man theory. Berbeda dengan kaum materialis, yang
menganggap perubahan teknologi dan distribusi barang dan jasa sebagai sumber perubahan
sosial, berbeda dengan kaum idealis yang menyatakan bahwa gagasanlah yang
menimbulkan per-ubahan sosial, the great man theory meletakkan pahlawan sebagai sumber
dari segala perubahan. Pahlawan ada-lah manusia besar yang mengubah sejarah umat manusia.
“And I said: the great man always acts like a thunder. He storms the skies, while others are
waiting to be stor-med,” kata Carlyle ketika merumuskan teorinya tentang Manusia Besar.
Aku katakan bahwa manusia besar selalu seperti halilintar yang membelah langit, dan
manusia yang lain hanya menunggu dia seperti kayu bakar.
Apakah perubah-an besar yang dilakukan Nabi Muhammad saw? Gerangan percikan cahaya
langit apakah yang me-ngubah gembala unta di Sahara menjadi penakluk-penakluk
dunia? Kita da-pat membuat daftar panjang:
1. dari syirik ke tauhid
2. dari kepongahan ras ke persamaan
3. dari kejahilan ke ilmu pengetahuan
4. dari kezaliman ke keadilan
5. dari perpecahan ke persaudaraan
6. dari keserbabolehan ke kesucian
7. dari penindasan perempuan ke penghormatan
Dalam makalah singkat ini, kita akan menengok seki-las pada dua butir yang pertama.
Dari Syirik ke Tauhid Masyarakat jahiliyah disebut al-Quran sebagai kaum musyrikin.
Mereka memuja berbagai berhala. Bukan hanya berhala dari kayu dan batu. Gemintang,
pepohonan, unta, kepala suku, jin, tradisi leluhur, atau apa saja dapat diberhalakan. Berhalaberhala
itu telah membelenggu masyarakat, membungkam kebebasan berbicara, mematikan
pikiran kritis, dan melumpuh-kan perlawanan kepada tirani. Manusia mempersem-bahkan
kepasrahan dirinya kepada banyak berhala. Karena itu, mereka takut kepada banyak hal.
Jiwa mere-ka gelisah karena harus mentaati banyak tuan.
Dari puncak bukit Hira turun Sang Rasul. Ia membawa firman Tuhan: Tidaklah mereka
diperintah ke-cuali menyembah Allah saja dengan mengikhlaskan agama bagi-Nya (QS. 98:5);
dan Tuhan kamu adalah Tuhan yang satu, tidak ada Tuhan kecuali Dia Yang Mahakasih
Mahasa-yang (QS. 2:163). Sekarang bangsa Arab meninggalkan semua berhala dan
menyerahkan dirinya kepada Allah saja. Mereka tidak memuja siapa pun kecuali Allah.
Mereka tidak mencintai siapa pun dengan puncak kecintaan selain Allah. Harga diri mereka
timbul. Keta-kutan hilang. Kegelisahan digantikan dengan ketentra-man.
Ketika pasukan umat Islam bergerak menuju Persia, seorang sahabat diutus untuk menemui
Pangli-ma Rustam di istananya. Panglima ini dilaporkan sem-pat mengejek tentara Islam
dengan mengatakan: “Buat menyambut para gembala unta, cukuplah aku kirimkan
gembala-gembala babi.” Ia mengira bangsa Arab yang dihadapinya adalah bangsa yang
belum diubah dari syirik ke tauhid. Utusan pasukan Islam datang dengan pakaian yang
lusuh dan mengendarai keledai. Ia ma-suk ke istana dengan penuh kepercayaan diri.
Keledai-nya diseret ke dalam balai pertemuan dan diikat pada salah satu kursi di istana.
Rustam bertanya, “Bangsa macam apakah kali-an ini?” Sahabat itu menjawab, “Nahnu
qawmun ib-ta’atsana Allah li yukhrijan Nas minazh Zhulumat ilan Nur, min jauwril adyan
ila ‘adlil Islam, min ‘ibadatil ‘ibad ila ibadatillahi wahdah. Kami adalah bangsa yang dipilih
Tuhan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari kezaliman
berbagai agama kepada keadilan Islam, dari penghambaan kepada hamba ke penghambaan
kepada Allah saja.
Ketika orang-orang Persia menghinanya de-ngan mengunggokkan tanah di atas
punggungnya, utusan ini tertawa gembira: “Lihat, mereka telah menye-rahkan tanahnya
kepada kita.” Kelak bangsa Persia bukan hanya menyerahkan tanahnya, mereka juga menyerahkan
hatinya untuk Islam.
Seorang pemikir Persia, ‘Ali Syari’ati, dalam Rasulullah saw: Sejak Hijrah hingga Wafat,
menulis ten-tang keberhasilan Nabi saw dalam mencabut akar-akar kemusyrikan dengan
meletakkannya pada perspektif masa depan umat:
Akar-akar kemusyrikan telah di-cerabut dari seluruh penjuru Jazirah Arabia. Bait Umat
Manusia yang didirikan oleh Bapak Agama yang Lurus, Ibrahim, telah disucikan diri dari
noda-noda keber-halaan, dan hukum Allah dan manusia telah tertanam pula dalam
kehidupan masya-rakat yang saling bersaudara satu sama lain. Namun Muhammad cukup
sadar un-tuk tidak silau oleh kemenangan-kemena-ngan yang diraihnya. Dia adalah orang
yang mampu memahami umatnya lebih da-ri siapapun, dan dapat melihat dengan jelas
adanya api kemunafikan, dendam kekabila-han, semangat primordial dan moral jahili yang
bersembunyi di belakang tabir persa-tuan umatnya yang telah dibentuk oleh ke-kuatan
iman dan tajamnya pedang politik.
Muhammad sadar betul bahwa, kendati dia mampu menyatukan para pe-mimpin kabilah
dan pembesar-pembesar Quraisy di bawah panji Islam, namun pen-didikan jiwa,
penanaman keimanan yang baru di dalam kalbu dan akal umat, dan pematangan sikap
beragama yang baru di-pisahkan dua puluh tahun dari akal-akal jahiliahnya itu, tidak bisa
tidak, masih mem-butuhkan waktu yang sangat lama dan mesti melalui beberapa generasi.
Nabi, sejak semula, sudah menya-dari adanya ancaman-ancaman tersebut. Namun yang
lebih ditakutkannya adalah masa depan umat-nya yang belum lama diikat oleh tali
persaudaraan keimanan dan yang masih silau dengan kemenangan-ke-menangan yang
diraihnya bila dia tinggal-kan nanti.
Sang ayah akan segera mening-galkan alam semesta ini. Akan tetapi bagai-mana nasib bocah
yang usianya baru dua puluh tahun dan yang dalam tubuhnya me-ngeram ratusan penyakit
itu, sedangkan dia harus berdiri pada kedua telapak kaki-nya sendiri -sesudah ayahnya
meninggal- seraya harus menghadapi angin kencang yang menerjang dirinya dari segala
penjuru?
Dengan cara apakah sang Ayah melindungi masyarakat Islam yang bocah ini dari bahaya
terbentuknya berhala ba-ru? Ia mengamanatkan kepada umatnya untuk mengikuti
pembawa agama yang ti-dak memasukkan kepentingan yang ren-dah pada ajaran agama,
kepada mereka yang dibersihkan dari segala nista dan di-sucikan Allah sesuci-sucinya,
kepada Ahlul Bait yang disebutkan dalam al-Ahzab 33. Ia bersabda: “Aku tinggalkan bagi
kamu dua pusaka yang jika kamu berpegang teguh kepa-danya kamu tidak akan sesat selamalamanya:
Kitab Allah dan Ahli Baitku.” Mazhab Ahlul Bait adalah mazhab yang ditegakkan
di atas tauhid murni - kecintaan sejati hanya di-persembahkan kepada Allah Swt!
Dari Kepongahan Ras kepada Persamaan Karena suku-suku bangsa ini terasing di saha-ra,
mereka mengembangkan kecintaan kepada suku sebagai cara agar mereka bertahan hidup.
Kesetiaan kepada suku kemudian berkembang menjadi kebang-gaan rasial. Mereka senang
menghitung prestasi-pres-tasi sejarah yang diukir oleh nenek-moyangnya. Dari keturunan
siapa mereka berasal dijadikan ukuran dera-jat mereka. Karena itu, dalam bahasa Arab
keturunan disebut juga sebagai hasab (berasal dari hasiba, menghi-tung).
Nabi saw menghapuskan kebanggaan ras atau etnis. Satu-satunya ukuran kemuliaan adalah
amal saleh. Ia menyampaikan firman Tuhan: Bagi setiap orang derajat berdasarkan amal
yang dilakukannya (QS. 6:132). Hakikat kemanusiaan tidak terletak dalam darah tetapi pada
akhlaknya. Secara perlahan-lahan, Nabi saw me-motong satu demi satu tonggak kepongahan
ras.
Ia memotong kebiasaan pernikahan yang di-dasarkan kepada kesederajatan dalam
keturunan. Ia menikahkan budak-budak belian dengan perempuan bangsawan. Ia bersabda:
Aku menikahkan Zaid bin Haritsah kepada Zainab binti Jahasy dan aku menikahkan
Miqdad kepada Dhiba’ah binti Zubair bin Abdil Muthallib supaya mereka mengeta-hui
bahwa kemuliaan yang paling tinggi adalah islam dan bahwa yang paling mulia di antara
kamu di sisi Allah adalah yang paling bagus keislamannya (Kanz al-Ummal 313; Makarim
al-Akhlaq, 1:452-1546).
Ia memotong kebiasaan orang Arab untuk me-rendahkan orang ‘Ajam dengan memberikan
penghor-matan kepada para sahabat yang berasal dari luar Arab, seperti Salman al-Farisi.
Pada suatu hari Salman sedang duduk bersama orang-orang Quraisy di Mesjid. Mereka
sedang mem-bangga-banggakan keturunan mereka secara bergiliran. Ketika sampai kepada
Salman, Umar bin Khattab berta-nya kepadanya: “Katakan kepadaku siapa kamu? Siapa
bapakmu? Apa asal-usulmu?” Salman menjawab: “Aku Salman anak hamba Allah. Dahulu
aku tersesat, lalu Allah memberikan petunjuk kepadaku melalui Mu-hammad saw. Dahulu
aku miskin, lalu Allah memper-kaya aku dengan Muhammad. Dahulu aku budak, lalu Allah
membebaskan aku dengan Muhammad. Inilah nasabku dan inilah hasab-ku.”
Ketika Nabi keluar dan menemukan Salman berbicara kepada mereka, Salman berkata
kepada Nabi: “Ya Rasulullah, ingin aku adukan apa yang aku dapat-kan dari mereka. Aku
duduk bersama mereka dan mere-ka mulai menjelaskan nasab mereka dan membanggabanggakannya.
Ketika sampai kepadaku, Umar bin Khattab berkata kepadaku: ‘Katakan
kepadaku siapa kamu? Siapa bapakmu? Apa asal-usulmu?’ Aku men-jawab: ‘Aku Salman
anak hamba Allah. Dahulu aku tersesat, lalu Allah memberikan petunjuk kepadaku dengan
Muhammad. Dahulu aku miskin, lalu Allah memperkaya aku dengan Muhammad. Dahulu
aku bu-dak, lalu Allah membebaskan aku dengan Muhammad. Inilah nasabku dan inilah
hasabku.” Rasulullah saw bersabda: “Hai orang-orang Quraisy sesungguhnya ha-sab
manusia itu adalah agamamu, jati dirinya adalah akhlaknya, dan asal-usulnya adalah
akalnya. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan kamu laki-laki dan
perempuan dan kami menjadikan kamu berbagai suku bangsa dan golongan supaya kamu
saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling takwa.”
Selanjutnya Nabi saw berkata kepa-da Salman: Tidak ada seorangpun di antara mereka yang
lebih utama dari kamu kecuali karena ketakwaan kepada Allah. Jika kamu lebih takwa
maka kamu lebih utama di atas mereka.” (Bihar al-Anwar, 22:511)
Kepada Salman, Nabi saw juga menyampai-kan sabdanya yang terkenal, “Salman dari kami
Ahlul Bait”.
Pada zaman Imam Ja’far al-Shadiq, al-Fadhl dengan bapaknya ‘Isa dari keturunan Bani
Hasyim me-nemui Imam Ja’far. ‘Isa bertanya: “Betulkah ucapan Rasulullah saw bahwa
Salman seseorang dari kami Ahlul Bait?” Ia menjawab: “Betul.” Ia bertanya: “Jadi dari
keturunan Abdul Muthallib?” Ia menjawab: “Dari kami Ahlul Bait.” Ia bertanya lagi: “Jadi
dari keturunan Abu Thalib?” Ia berkata: “Dari kami Ahlul Bait.” ‘Isa berkata kepada Imam:
“Aku tidak mengenal (silsilah) dia.” Imam Ja’far berkata: “Ketahuilah, hai ‘Isa, bahwa
Salman dari kami Ahlul Bait.” Kemudian Imam merapatkan tangannya ke dadanya seraya
berkata: “Hubungan itu tidaklah seperti anggapan kalian. Sesungguhnya Allah menciptakan
tanah kami dari tempat yang tinggi dan menciptakan tanah untuk golo-ngan kami di bawah
itu. Mereka termasuk golongan kami. Tuhan menciptakan tanah untuk penciptaan mu-suh
kami dari Sijjin, tempat yang paling rendah dan menciptakan golongan mereka di bawah
itu. Mereka termasuk golongan mereka. Salman lebih baik dari Luqman.” (Bihar al-Anwar,
22:481).
Salman termasuk di antara tonggak-tonggak yang meperkokoh mazhab Ahlul Bait.
Tonggak-tong-gak lainnya adalah Miqdad, Ammar bin Yasir, dan Abu Dzarr. Semuanya
tidak berasal dari Bani Hasyim, tetapi mereka semua diciptakan dari bahan tanah yang sama.
Pada suatu hari terjadilah perdebatan antara Abu Dzarr dengan salah seorang budak yang
berkulit hitam. Abu Dzarr melontarkan kalimat: “Hai anak pe-rempuan hitam.” Mendengar
itu Nabi saw menepuk bahu Abu Dzarr, “Thafa sha’. Keterlaluan kamu Abu Dzarr. Tidak
ada kelebihan orang putih di atas orang hitam, tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang
‘Ajam kecuali karena amal salehnya.” Mendengar itu, Abu Dzarr merapatkan kepalanya ke
tanah. Ia meminta kawannya itu menginjak kepalanya sebagai tebusan atas kepongahan ras
yang secara tidak sengaja tampak keluar dari mulutnya.
Misi Rasulullah saw itu dilanjutkan oleh para pengikutnya sepanjang sejarah. Sekali-kali
kebiasaan jahiliyah muncul, tetapi para mukmin yang saleh me-ngembalikannya lagi pada
Sunnah Nabi. Pada zaman Umayyah, misalnya, dibedakan antara orang Arab de-ngan bukan
Arab. Tetapi tradisi Umawiyyin ini tidak berbekas banyak pada kaum Muslimin. Suatu saat
para budak berhasil merebut kekuasaan dan mendirikan kerajaan Islam dengan nama
Dinasti Budak (Mamluk).
Ketika Declaration of Human Rights dikuman-dangkan, umat Islam disadarkan kembali
pada warisan mulia dari Nabi mereka. Warisan yang terkadang kita onggokkan dalam
puing-puing sejarah keemasan Islam. Simaklah bagaimana Syaikh Ja’far Subhani menu-lis
pada kalimat-kalimat terakhir bukunya, Risalah: Sejarah Kehidupan Rasulullah saw:
Beliau menegakkan hak-hak ma-nusia ketika hak-hak itu sedang diserobot; beliau
melaksanakan keadilan ketika kezali-man merajalela di mana-mana; beliau
memperkenalkan kesamaan ketika diskrimi-nasi yang tak semestinya sedang lumrah; beliau
memberikan kebebasan ketika ma-nusia sedang berkeluh kesah dalam penin-dasan,
kekejaman dan ketidakadilan.
Beliau membawa risalah yang mengajarkan manusia untuk taat dan ber-takwa kepada Allah
saja, memohon pertolo-ngan dari Dia saja. Risalahnya yang univer-sal meliputi semua aspek
kehidupan manu-sia, termasuk hak-hak, keadilan, persama-an, dan kebebasan.
Inilah risalah yang manusia, sekali lagi, telah kehilangan bimbingannya. Ma-ka,
mengapakah kita tidak datang lagi ke bawah naungannya agar umat manusia terselamatkan
dari kehancuran dan dapat mencapai kedamaian, kemajuan dan kebahagiaan. Semoga
shalawat dan salam Ilahi tercurah kepada beliau, keluarganya serta para sahabatnya.
(KH.Jalaluddin Rakhmat).
Dimensi Paripurna Pribadi Nabi
Muhammad saw
Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasullah saw suri teladan yang baik bagi kamu (yaitu)
bagi siapa yang mengharap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) hari akhir dan banyak
menyebut Allah (QS. 33:21).
Ayat ini ditujukan kepada seluruh manusia. Ini berarti bahwa semua orang dapat menemukan
pada diri Nabi Muhammad saw “ketelada-nan” yang dapat mengantar mereka memperoleh rahmat
Ilahi serta keba-hagiaan ukhrawi.
Abbas al-Aqqad dalam buku-nya Abraqiyyat Muhammad mengemu-kakan bahwa ada empat tipe
dan kecenderungan manusia, yaitu ilmu-wan, seniman, pekerja, dan yang tekun beribadah. Pada
umumnya, bila kepri-badiannya telah menonjol dalam satu aspek atau salah satu kecenderungan
ini, biasanya manusia tidak lagi menonjol dalam tipe dan kecende-rungan yang lain. Kalaupun
yang lain ada, peringkatnya jauh di bawah penonjolan yang pertama itu. Ini berbeda dengan Nabi
Muhammad saw yang mencapai puncak dalam keempat kecenderungan manusia tersebut. Dari
sini, wajar jika beliau dijadikan Allah sebagai teladan bagi seluruh manusia.
Prestasi yang dicapai Nabi itu merupakan berkat penanganan Allah secara langsung terhadap
beliau. “Allah mendidikku, maka sungguh baik pen-didikan (terhadap)-ku”. Mahaguru beliau
adalah malaikat Jibril dan materi pengajarannya adalah al-Quran. Begitu bunyi QS. 53:5. jadi,
wajar jika A’isyah menegaskan, “budi pekerti beliau adalah al-Quran.”
Ayah, suami, anak, negarawan, pemimpin masyarakat atau militer, semuanya dapat menimba
keteladanan dari sumber yang tidak pernah kering itu. Berikut kita paparkan sekilas potret
kepribadian beliau, sebagaimana ditu-turkan oleh mereka yang secara lang-sung pernah
melihatnya.
Jika berbicara, Nabi sering mengigigit-gigit bibirnya, menggeleng-kan atau menganggukkan
kepala, memukul-mukul telapak tangan kiri dengan jari telunjuknya. Agaknya ini pertanda beliau
memikirkan apa yang diucapkan sebelum terucapkan, karena beliau yakin: Tiada satu ucapanpun
yang diucapakan, kecuali ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir (mencatatnya) (QS.
50:18). Ucapannya jelas, tiada kata yang “dikunyah” sehingga tidak terdengar, juga tiada yang tak
bermanfaat. Pilihan kata-katanya sangat tepat. Lantaran ini, bahkan beliau dianugerahi “Jawâmi’
al-Kalim”, yakni kemampuan menyusun kalimat sarat makna.
Sering ucapannya diulangi tiga kali. Bukan hanya dialeknya yang sering disesuaikan dengan
mitranya, tetapi juga kandungan percakapannya. Kalimat paling buruk dari ucapan beliau adalah:
“Semoga dahinya ter-kena dari seorang yang berobat dan ingin dijatuhi sanksi.
Tertawa beliau umumnya ha-nya senyum. Kalaupun melebihi sen-yum, itu tidak sampai terbahak.
Paling-paling antara gigi taring dan gera-hamnya saja yang terlihat. Tangis dan keprihatinannya
lebih banyak daripada tertawanya. Sabdanya: “Jika kalian mengetahui apa yang kuketahui,
niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.” Tak heran karena memang al-Quran
mengecam kaum musyrik: Apakah kalian merasa heran terhadap penberitaan ini, dan kalian
menertawakan serta tidak menangis? (QS. 53:59-60).
Ketika putranya Ibrahim wafat, beliau menangis. “Air mata berlinang, hati duka, tetapi kita tidak
berucap kecuali yang diridhai Allah. Kami dengan kepergianmu, hai Ibrahim, sungguh sedih.”
Demikian beliau melepas putra kesayangannya. Ketika Ibn Mas’ud membaca surat al-Nisa’, beliau
tekun mendengarnya. Tapi beliau meminta sahabatnya itu untuk berhenti, karena beliau tak kuasa
menahan tangisnya, ketika sampai pada firman-Nya: “Maka bagaimana-kah keadaannya apabila
Kami menda-tangkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (hai
Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu? (QS. 4:41)
Kemurahan dan kerendahan hati Nabi saw sangat menonjol. Beliau tidak menggunakan atau
menerima sedikitpun sedekah, tetapi menerima hadiah dan menganjurkan untuk saling bertukar
hadiah. Dari orang Nasrani dan Yahudi pun beliau mene-rima hadiah dan membalasnya. Raja
Mesir, al-Muqauqis, antara lain pernah memberinya hadiah keledai (baghal) yang kemu-dian
dikendarai beliau dalam pepe-rangan Hunain. Tetapi beliau meno-lak hadiah kuda dari Amir bin
Malik karena kemusyrikan-nya. “Kita tidak menerima hadiah dari musyrik,” sabda beliau. Namuan
demikian, beliau membenarkan sese-orang menerima hadiah dari keluar-ganya yang musyrik.
Asma’ putri Abu Bakar per-nah menolak hadiah ibunya yang masih musyrik. Tetapi, ketika A’isyah
saudari Asma’ dan istri Nabi mena-nyakan sikap tersebut kepada beliau, turun ayat al-Quran yang
menyatakan: Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil (memberi sebagian
dari hartamu) terhadap mereka yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak pula
mengusir dari negerimu…(QS. 60:8)
Jadi setelah turun ayat ini, Rasul membolehkan umatnya menerima hadiah sekalipun dari seorang
musyrik.
Walau demikian, Raul saw mewanti-wanti pejabat yang menerima hadiah, jangan sampai di
belakang hadiah itu terdapat motif yang ti-dak lurus. “Apakah bila duduk di rumah ibunya (tidak
menjabat), ia di-beri pula hadiah itu?”
Beliau enggan dipuji, baik pujian pada tempatnya, apalagi bu-kan pada tempatnya. Dua orang
penyanyi mendendangkan lagu menyebut-nyebut syu-hada perang badar. Ketika mereka bersyair,
“Ada Nabi di sisi kami menge-tahui yang terjadi esok”, Nabi menegur mereka: “Yang demikian
jangan diu-capkan.”
Tak bisa disangkal bahwa beliau adalah semulia-mulia nabi. Namun, ketika seorang memanggil
beliau de-ngan ucapan “Ya, Khairal-bariyyah” (wahai, manusia terbaik), beliau mene-gurnya
sambil berkata: “Panggilan itu untuk Nabi Ibrahim.” Dan meski Allah menyatakan bahwa Rasulrasul
itu kami muliakan sebagian mereka atas sebagian yang lain (QS. 2:253),
Nabi saw menegaskan seba-gaimana diriwayatkan oleh Bukhari: “Jangan pilah-pilah kebaikan
para nabi.” Ini, tentunya, agar tidak menim-bulkan kesan negatif terhadap sese-orang di antara
sikap merendahkan mereka atau tidak beriman kepada kenabian mereka. Bu-kankah Allah mengajar-
kan Muslim untuk ber-ucap Kami tidak membe-dakan antara seorang pun dengan yang lain
dari ra-sul-rasul-Nya (QS. 2:285).
Nabi saw sangat sayang kepada anak-an-ak. Beliau mengucap kan salam kepada mereka sam-bil
menyapanya. Bahkan boleh jadi menggendongnya. Ketika seorang anak pi-pis di pangkuan
beliau, pengasuhnya merebut sang anak dengan kasar. Maka beliau mene-gurnya: Biarkan dia
pipis. Ini (sambil menunjuk pakaian beliau yang basah) dapat dibersihkan dengan air. Tetapi apa
yang dapat menjernihkan kekeru-han hati anak ini akibat renggutan yang keras?”
Keramahan dan kasih sayang beliau mencakup segala orang. “Kasi-hanilah petinggi satu kaum
yang jatuh hina,” demikian sabdanya.
Ketika seseorang begitu takut dan gemetar menghadap beliau, beliau menenangkan orang itu
sambil me-ngingat jasa ibunya: “Aku tidak lain adalah anak seorang wanita suku Quraisy yang
memakan dendeng.” Sebagai penghormatan kepada orang lain, beliau mengulurkan tangan
terlebih dahulu untuk bersalaman. Beliau menoleh dengan seluruh ba-dannya, menunjuk dengan
seluruh jarinya, dan tidak terlihat meluruskan kaki sambil duduk di tengah sahabat-nya. Beliau
memanggil mereka dengan panggilan mesra atau panggilan peng-hormatan, yakni dengan kunyah
(kata yang didahului oleh “Abu” atau “Umnu”).
Beliau tidak pernah memotong pembicaraan seseorang. Dan, kalau menegur, tidak menyebut
nama yang ditegurnya. “Mengapa ada yang mela-kukan ini dan itu,” begitu ucapnya. Ketika salah
seorang “keluar angin” di pesta makan, dan setelah itu shalat segera akan dimulai, beliau tidak
berkata: “yang keluar angin silakan berwudhu.” Beliau cukup mengatakan: “siapa yang makan
daging unta, hen-daklah dia berwudhu.” Namun sab-danya ini disalahpahami oleh ulama yang
tidak mengetahui latar belakang-nya sehingga menduga bahwa makan daging unta membatalkan
wudhu. Padahal tidak demikian.
Kesadaran beliau akan tidak hidup untuk duniawi sungguh menon-jol. Unta beliau dikenal sangat
laju, tidak terkejar oleh unta lain. Tapi suatu ketika unta itu terkalahkan. Para sahabat pun kecewa
sehingga beliau mengingatkan: “Telah menjadi kete-tapan Tuhan, tidak sesuatupun yang
ditinggikan-Nya, kecuali suatu ketika ia akan turun dari ketinggian itu.”
Demikian sekelumit kepriba-dian Nabi Muhammad saw yang tak pernah habis untuk diuraikan.
Semoga shalawat dan salam Ilahi tercurah kepada beliau, keluarganya serta para sahabatnya.
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Semoga bermanfaat
Anda ingin menjadi DA’I SEJUTA E-MAIL, tolong anda kirimkan artikel ini kepada sesama muslim, baik keluarga, sahabat dan
siapapun yang anda kenal atau silakan cetak untuk bacaan keluarga di rumah. Terima kasih
Billahit-taufiq wal-hidayah
Wassalamualaikum wr.wb
Imam Puji Hartono
NCA Div-AMC -BPPN
E-MAIL : imam@bppn.go.id
"Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan SHOLAT dan ZAKAT untuk akhiratmu"
----------------------------------------------------------------
The information transmitted is intended only for the person or entity to which it is addressed and may contain confidential and/or privileged
material. Any review, retransmission, dissemination or other use of, or taking of any action in reliance upon, this information by persons or
entities other than the intended recipient is prohibited. If you received this in error, please contact the sender and delete the material from any
computer.